Islamisasi di Tatar Sunda: Adaptasi Budaya, Seni, Politik, Toleransi, dan Peran Pesantren
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses masuknya Islam ke
Nusantara merupakan salah satu transformasi sejarah terbesar yang membawa
dampak mendalam terhadap sistem sosial, politik, budaya, dan keagamaan
masyarakat. Di berbagai wilayah, Islam tidak hadir dalam bentuk tunggal,
melainkan melalui adaptasi yang beragam sesuai dengan kondisi lokal. Salah satu
wilayah yang memiliki dinamika menarik dalam proses Islamisasi adalah Tatar
Sunda atau wilayah Jawa Barat.
Islamisasi di Tatar Sunda
berlangsung sejak abad ke-15 hingga ke-17 M, terutama melalui jalur perdagangan
pesisir utara Jawa Barat (Cirebon, Banten, dan Sunda Kalapa/Jakarta). Pada masa
itu, Tatar Sunda masih berada di bawah pengaruh Kerajaan Sunda (Pajajaran) yang
bercorak Hindu-Buddha. Namun, proses Islamisasi berlangsung secara damai dan
gradual, dengan mengandalkan akulturasi budaya, seni, dan politik.
Ciri utama Islamisasi di Tatar
Sunda adalah kemampuannya menyesuaikan diri dengan tradisi lokal. Seni seperti wayang
golek, sastra religius berupa pupujian dan guguritan, serta
tradisi tasawuf Sunda menjadi jembatan penting dalam penyebaran Islam.
Selain itu, kekuasaan politik Kesultanan Cirebon dan Banten berperan sebagai
motor penggerak transformasi sosial dan religius. Faktor penting lainnya adalah
toleransi dan ko-eksistensi, yang membuat Islam diterima tanpa menghapus
identitas kesundaan.
Tidak kalah penting, peran pesantren
di pedalaman Sunda menjadi basis pendidikan dan transmisi keilmuan Islam.
Pesantren bukan hanya pusat pengajaran kitab kuning, tetapi juga pelestarian
budaya religius lokal. Kyai dan ajengan memelihara tradisi seperti pupujian,
tarekat, dan ziarah, yang memperkuat identitas Islam Sunda hingga kini.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam
makalah ini adalah:
- Bagaimana
proses Islamisasi di Tatar Sunda berlangsung?
- Bagaimana
adaptasi budaya dan seni berperan dalam Islamisasi?
- Bagaimana
kekuasaan politik (Cirebon dan Banten) mendorong Islamisasi?
- Bagaimana
sikap toleransi dan akulturasi mempengaruhi penerimaan Islam?
- Bagaimana
peran pesantren dalam menjaga dan melestarikan tradisi Islam di Tatar
Sunda?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
- Menjelaskan
proses Islamisasi di Tatar Sunda secara historis.
- Mendeskripsikan
bentuk adaptasi budaya dan seni dalam penyebaran Islam.
- Menganalisis
pengaruh politik Kesultanan Cirebon dan Banten dalam Islamisasi.
- Menunjukkan
bentuk toleransi dan akulturasi dalam penerimaan Islam.
- Menguraikan
peran pesantren dalam menjaga kesinambungan Islam di Tatar Sunda.
1.4 Manfaat Penelitian
Secara akademis, makalah ini
bermanfaat sebagai referensi kajian sejarah lokal Jawa Barat dalam konteks
Islamisasi Nusantara. Secara praktis, pemahaman mengenai Islamisasi di Tatar
Sunda dapat memperkuat kesadaran budaya dan keberagamaan masyarakat Sunda masa
kini, terutama dalam menjaga harmoni antara tradisi dan agama.
BAB II. LANDASAN TEORI DAN METODOLOGI
2.1 Teori Islamisasi Nusantara
Kajian mengenai Islamisasi
Nusantara telah melahirkan beragam teori yang mencoba menjelaskan jalur, aktor,
dan mekanisme penyebaran Islam. Beberapa teori utama adalah:
- Teori Gujarat
Menyatakan
bahwa Islam masuk ke Nusantara melalui pedagang dari Gujarat, India, sekitar
abad ke-13. Pendapat ini didukung oleh sarjana Belanda seperti Snouck Hurgronje
yang menekankan peran pedagang India Muslim sebagai agen utama.
- Teori Arab
Teori ini
berargumen bahwa Islam masuk langsung dari Arab melalui jalur perdagangan
internasional sejak abad ke-7 M. Pendukung teori ini mengacu pada jejak
hubungan dagang Arab dengan pelabuhan di Asia Tenggara.
- Teori
Persia
Menekankan pengaruh kebudayaan Persia, terutama dalam praktik tasawuf, tradisi tahlilan, tabot, dan perayaan Asyura. Beberapa tradisi ini juga ditemukan dalam budaya Islam lokal di Nusantara. - Teori
Cina
Menjelaskan adanya peran Muslim Tionghoa, terutama melalui komunitas Muslim di pesisir utara Jawa seperti Semarang, Lasem, dan Cirebon. Bukti arsitektur klenteng-masjid di Cirebon dan Semarang memperkuat dugaan ini.
Dalam konteks Tatar Sunda,
teori Gujarat dan Arab lebih menonjol karena posisi strategis Jawa Barat
sebagai jalur perdagangan internasional di Selat Sunda dan pesisir utara Jawa.
Namun, jejak pengaruh Cina dan Persia juga terlihat dalam arsitektur, kesenian,
dan tradisi religius.
2.2 Konsep Adaptasi Budaya dan Islam Lokal
Islamisasi di Nusantara, termasuk
di Tatar Sunda, tidak berlangsung dengan menggantikan tradisi lama secara
frontal. Sebaliknya, proses ini berjalan dengan akomodasi dan adaptasi
budaya.
Clifford Geertz (1960) dalam
studinya di Jawa memperkenalkan tipologi santri, abangan, dan priyayi
yang menunjukkan adanya diferensiasi penerimaan Islam. Meski tipologi Geertz
dikritik, ia memberi gambaran bahwa Islam di Jawa (termasuk Sunda) mengalami
proses sinkretisasi.
Martin van Bruinessen (1995)
menekankan peran pesantren, tarekat, dan kyai sebagai institusi Islam
tradisional yang menjaga kesinambungan Islam “pribumi.” Menurutnya, kekuatan
Islam di Indonesia justru terletak pada fleksibilitas dan kemampuannya
mengakomodasi tradisi lokal.
Dalam perspektif antropologi
budaya, Islam di Tatar Sunda dapat dipahami sebagai bentuk Islam lokal (local
Islam) yang berakar pada nilai-nilai kesundaan seperti silih asih, silih
asah, silih asuh (saling mengasihi, mendidik, dan melindungi).
2.3 Teori Politik Islamisasi
Dalam kajian sejarah Islam di
Nusantara, kekuasaan politik memiliki peranan besar. Para sejarawan menekankan
bahwa Islamisasi bukan hanya gerakan dakwah kultural, tetapi juga
penguatan legitimasi politik kerajaan-kerajaan Islam.
Kesultanan Cirebon dan Banten
adalah contoh nyata bagaimana Islamisasi terhubung dengan pembentukan negara
Islam lokal. Raja dianggap sebagai pemimpin politik sekaligus pemimpin
religius (raja-pandita). Dengan cara ini, Islam tidak hanya menjadi agama
personal, tetapi juga simbol kekuasaan dan identitas negara.
2.4 Metodologi Penelitian
Makalah ini menggunakan pendekatan sejarah kualitatif
dengan mengacu pada sumber-sumber primer dan sekunder.
- Sumber Primer: naskah babad (misalnya Babad
Cirebon), hikayat, arsip kolonial Belanda, serta peninggalan
arkeologis (masjid, makam, artefak).
- Sumber Sekunder: buku, jurnal ilmiah, dan
hasil penelitian akademis tentang Islamisasi di Jawa Barat.
- Metode Analisis: pendekatan deskriptif-analitis
dengan memadukan analisis sejarah, antropologi budaya, dan kajian agama.
Dengan metodologi ini, makalah
mencoba menghadirkan narasi yang komprehensif tentang Islamisasi di Tatar
Sunda, bukan hanya dari sisi politik, tetapi juga budaya, seni, toleransi, dan
peran pesantren.
BAB III. PROSES ISLAMISASI DI TATAR SUNDA
3.1 Kondisi Awal: Kerajaan Sunda-Pajajaran
Sebelum kedatangan Islam, Tatar
Sunda berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda (Pajajaran) dengan pusat
pemerintahan di Pakuan (sekarang Bogor). Sistem keagamaan didominasi oleh
Hindu-Siwa dan Budha, dengan unsur animisme lokal yang masih kuat. Dalam
masyarakat Sunda pra-Islam, tradisi kebatinan, pemujaan arwah leluhur,
serta ritual pertanian menjadi bagian penting kehidupan sehari-hari.
Menurut Ricklefs (2008), Kerajaan
Sunda memiliki relasi dagang yang luas dengan dunia luar, khususnya pedagang
asing yang datang melalui pelabuhan di pesisir utara seperti Banten, Cirebon,
dan Sunda Kalapa. Hal ini membuka ruang interaksi antara masyarakat Sunda
dengan komunitas Muslim.
3.2 Jalur Perdagangan sebagai Jalan Islamisasi
Perdagangan menjadi salah satu
jalur utama Islamisasi di Nusantara, termasuk di Tatar Sunda.
Pelabuhan-pelabuhan strategis di sepanjang pantai utara Jawa Barat seperti Cirebon,
Indramayu, Karawang, Sunda Kalapa, dan Banten menjadi simpul penting
pertukaran barang sekaligus budaya.
Pedagang Muslim dari Gujarat,
Arab, Persia, dan Tiongkok memperkenalkan Islam kepada masyarakat lokal melalui
interaksi ekonomi. Tidak jarang, perkawinan antara pedagang Muslim dengan
perempuan lokal memperkuat proses penyebaran Islam secara kultural.
Dalam catatan Portugis abad
ke-16, disebutkan bahwa masyarakat pelabuhan di Cirebon dan Banten sudah mulai
memeluk Islam, sementara pusat kerajaan di Pakuan masih mempertahankan
kepercayaan Hindu-Buddha. Hal ini menunjukkan bahwa Islamisasi bermula dari wilayah
pesisir sebelum akhirnya merambah ke pedalaman.
3.3 Peran Cirebon sebagai Pusat Islamisasi
Kesultanan Cirebon yang didirikan
oleh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) menjadi motor penting
penyebaran Islam di Jawa Barat. Sebagai salah satu tokoh Walisongo, Sunan
Gunung Jati dikenal menggabungkan strategi dakwah kultural dengan kekuasaan
politik.
Menurut Ambary (1991), sumber
babad menggambarkan Sunan Gunung Jati sebagai “raja-pandita,” yakni
pemimpin yang sekaligus menguasai aspek politik dan religius. Melalui
pernikahan politik dan aliansi dagang, Cirebon berhasil memperluas pengaruh
Islam ke wilayah Priangan dan pesisir utara.
Selain itu, Cirebon juga dikenal
sebagai pusat akulturasi seni dan budaya Islam. Wayang, batik, seni ukir, dan
arsitektur masjid menjadi medium dakwah yang memperlihatkan perpaduan antara
Islam dan tradisi Sunda.
3.4 Kesultanan Banten dan Runtuhnya Pajajaran
Selain Cirebon, Kesultanan
Banten berperan besar dalam mempercepat Islamisasi. Berdiri pada
pertengahan abad ke-16, Banten berkembang pesat sebagai kerajaan maritim dan
pusat perdagangan lada yang makmur. Sultan Maulana Hasanuddin, putra Sunan
Gunung Jati, memimpin ekspansi politik sekaligus dakwah ke wilayah barat Jawa.
Pada tahun 1579, pasukan Banten
berhasil menaklukkan Kerajaan Sunda-Pajajaran. Peristiwa ini menandai
runtuhnya pusat kekuasaan Hindu-Buddha terakhir di Tatar Sunda. Dengan
demikian, Islam menjadi kekuatan politik dominan yang menggantikan Pajajaran.
Namun, proses ini tidak
berlangsung secara destruktif. Banyak tradisi Sunda lama yang tetap
dipertahankan, hanya diberi makna baru sesuai ajaran Islam. Misalnya, upacara
pertanian dan ritual adat dilebur dalam kerangka syariat atau tasawuf.
3.5 Jaringan Ulama dan Tarekat
Selain jalur perdagangan dan
politik, penyebaran Islam di Tatar Sunda juga diperkuat oleh jaringan ulama dan
tarekat. Ulama-ulama yang belajar di Timur Tengah membawa ajaran tasawuf dan
menyebarkannya di pesantren-pesantren pedalaman.
Tarekat Naqsyabandiyah dan
Qadiriyah-Naqsyabandiyah menjadi dominan di Jawa Barat, khususnya di
wilayah Priangan. Tradisi ziarah makam, wirid, dan suluk menjadi bagian penting
religiositas masyarakat Sunda. Menurut Bruinessen (1995), tarekat tidak hanya
menjadi jalan spiritual, tetapi juga wadah solidaritas sosial yang memperkuat
komunitas Muslim di pedesaan.
3.6 Ringkasan Proses Islamisasi di Tatar Sunda
Berdasarkan uraian di atas, proses Islamisasi di Tatar Sunda
dapat dirangkum dalam beberapa tahapan:
- Kontak
Dagang: interaksi pedagang Muslim dengan masyarakat Sunda di pesisir.
- Konversi
Elit Lokal: penguasa pelabuhan seperti Cirebon dan Banten memeluk
Islam, lalu menjadikannya identitas politik.
- Ekspansi
Politik: Kesultanan Banten menaklukkan Pajajaran (1579), menjadikan
Islam kekuatan dominan.
- Penguatan
Kultural: seni, sastra, dan tradisi lokal diislamkan tanpa dihapus.
- Penguatan
Pendidikan: pesantren dan tarekat memperkuat Islam di pedalaman.
Dengan demikian, Islamisasi di
Tatar Sunda berhasil karena menggabungkan kekuatan dagang, politik, budaya, dan
pendidikan agama yang berjalan selaras.
BAB IV. ADAPTASI BUDAYA DAN SENI DALAM ISLAMISASI SUNDA
4.1 Islamisasi Melalui Seni Pertunjukan
Salah satu kunci keberhasilan
Islamisasi di Tatar Sunda adalah penggunaan seni pertunjukan sebagai
media dakwah. Seni dalam masyarakat Sunda tidak hanya berfungsi sebagai
hiburan, tetapi juga sarana pendidikan, ritual, dan pengikat sosial.
Ulama-ulama Sunda memanfaatkan posisi strategis seni untuk menyampaikan ajaran
Islam.
a. Wayang Golek
Wayang golek merupakan bentuk
seni pertunjukan khas Sunda yang berkembang pesat pada abad ke-16 hingga ke-18.
Menurut penelitian Dewi (2018), wayang digunakan sebagai media dakwah
Walisongo, termasuk Sunan Gunung Jati. Cerita-cerita Mahabharata dan Ramayana
tidak dihapus, tetapi diberi tafsir baru dengan memasukkan nilai-nilai Islam.
Misalnya, tokoh Punakawan yang
biasanya dianggap sebagai pelawak, justru dijadikan penyampai petuah moral
Islam. Kisah wayang pun sering diselipi ajaran tauhid, akhlak, dan kritik
sosial. Dengan demikian, Islam diterima masyarakat tanpa benturan langsung
dengan budaya lama.
b. Seni Musik dan Degung
Musik Sunda seperti degung,
calung, dan kecapi suling juga diadaptasi dalam konteks Islamisasi.
Instrumen-instrumen ini digunakan untuk mengiringi syair-syair religius atau
pupujian di masjid. Musik Islami dalam budaya Sunda tidak pernah benar-benar
memutuskan diri dari instrumen tradisional, sehingga dakwah terasa akrab bagi
masyarakat.
c. Tari dan Ritual Adat
Beberapa tari tradisional Sunda,
seperti tari Topeng Cirebon, mengalami transformasi makna. Dari yang semula
bersifat ritualistik-Hindu, ia diislamkan menjadi medium penyampaian pesan
moral. Ritual-ritual pertanian pun tidak dihapus, melainkan diberi muatan
doa-doa Islam seperti pembacaan tahlil atau shalawat.
4.2 Sastra dan Tradisi Lisan
sebagai Medium Dakwah
Selain seni pertunjukan, sastra
Sunda berperan penting dalam Islamisasi. Masyarakat Sunda dikenal memiliki
tradisi lisan yang kuat melalui pantun, pupujian, dan guguritan.
a. Pupujian
Pupujian adalah syair religius
berbahasa Sunda atau campuran Arab-Sunda yang dibacakan sebelum salat
berjamaah. Isinya berupa pujian kepada Allah, Nabi Muhammad, serta ajakan
berbuat baik. Menurut Rohmana (2015), pupujian merupakan bentuk “lokalisasi” Islam
yang mengakar di pesantren-pesantren Sunda. Hingga kini, tradisi pupujian masih
hidup di masjid-masjid pedesaan Jawa Barat.
b. Guguritan dan Dangding
Guguritan adalah bentuk puisi
tradisional Sunda yang kemudian dipakai untuk menerjemahkan ajaran Al-Qur’an
dan hadis. Misalnya, terdapat guguritan yang mengajarkan kisah para nabi atau
ajaran tasawuf. Hal ini menunjukkan bagaimana sastra lama dipertahankan, tetapi
diberi isi baru sesuai ajaran Islam.
c. Nadoman
Nadoman adalah syair berirama
yang digunakan untuk menghafal doa, akhlak, atau fikih dasar. Nadoman biasanya
dinyanyikan oleh anak-anak di pesantren atau madrasah, sehingga menjadi metode
edukasi yang menyenangkan.
4.3 Tasawuf Sunda dan
Islamisasi Religius
Tasawuf atau sufisme memiliki
peran sentral dalam Islamisasi di Jawa Barat. Sifat masyarakat Sunda yang lekat
dengan spiritualitas memudahkan penerimaan ajaran tasawuf.
- Tradisi ziarah ke makam leluhur diislamkan dengan
konsep ziarah wali. Hingga kini, ribuan peziarah datang ke makam Sunan
Gunung Jati di Cirebon sebagai bentuk pengabdian religius sekaligus
kultural (Jaelani, 2016).
- Praktik wirid, dzikir, dan suluk tarekat
Naqsyabandiyah dan Qadiriyah-Naqsyabandiyah disesuaikan dengan budaya
lokal Sunda, sehingga tidak dianggap asing.
- Konsep ngaji rasa (pencarian spiritual
melalui hati) berkembang sebagai ekspresi sufistik khas Sunda yang sejalan
dengan konsep Islam universal.
4.4 Simbolisme Arsitektur dan Estetika Islam Sunda
Arsitektur masjid di Tatar Sunda
juga mencerminkan adaptasi budaya. Masjid-masjid tua di Cirebon, Banten, dan
pedalaman Sunda tidak meniru gaya Timur Tengah, melainkan menggabungkan
arsitektur lokal:
- Atap tumpang tiga pada masjid kuno (seperti Masjid
Agung Banten dan Masjid Agung Cirebon) melambangkan kosmologi Hindu-Buddha
lama, tetapi diberi makna baru dalam Islam.
- Ornamen ukiran kayu dan batik dipenuhi
simbol-simbol flora lokal, bukan kaligrafi Arab murni, sebagai cara agar
masyarakat mudah menerima estetika Islam.
- Pintu, gapura, dan keraton tetap mempertahankan
ciri Hindu-Buddha, tetapi dipadukan dengan simbol Islam seperti lafaz
Allah dan Muhammad.
4.5 Sintesis: Seni sebagai Jembatan Islam dan Sunda
Dari uraian di atas, dapat
disimpulkan bahwa seni dan budaya menjadi jembatan paling efektif dalam proses
Islamisasi di Tatar Sunda. Seni pertunjukan, musik, sastra, tasawuf, hingga
arsitektur berfungsi sebagai medium yang menghubungkan ajaran Islam dengan
tradisi lokal. Kekuatan utama pendekatan ini adalah sifatnya yang akomodatif
dan tidak konfrontatif. Masyarakat Sunda tidak merasa kehilangan identitas
budayanya, bahkan justru menemukan bentuk baru yang lebih religius. Inilah
sebabnya mengapa Islam bisa begitu cepat mengakar di Tatar Sunda.
BAB V. PERAN POLITIK DALAM ISLAMISASI SUNDA
5.1 Politik sebagai Motor Islamisasi
Islamisasi di Tatar Sunda tidak
hanya berlangsung melalui dakwah kultural, tetapi juga melalui jalur politik.
Seperti dicatat oleh Ricklefs (2008), Islam di Jawa memiliki kekuatan besar
ketika didukung oleh kerajaan atau kesultanan. Begitu pula di Tatar Sunda,
keberhasilan Islamisasi erat kaitannya dengan peran politik Kesultanan
Cirebon dan Kesultanan Banten.
Politik memberi legitimasi
terhadap Islam sebagai agama resmi dan membuka ruang institusionalisasi ajaran
Islam dalam hukum, pendidikan, dan budaya. Dengan demikian, Islam tidak hanya
menjadi kepercayaan personal, tetapi juga identitas politik dan simbol
kekuasaan.
5.2 Kesultanan Cirebon: Model Islamisasi Damai
Kesultanan Cirebon lahir dari
transformasi pelabuhan kecil Caruban menjadi pusat kekuasaan Islam di pesisir
utara Jawa Barat. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), tokoh utama
pendiri Cirebon, memadukan dakwah kultural dengan kepemimpinan politik.
Beberapa strategi politik
Islamisasi di Cirebon:
- Pernikahan
Politik
Sunan Gunung Jati menikah dengan putri lokal dan menjalin aliansi dengan kerajaan-kerajaan lain, memperluas pengaruh Islam secara damai. - Simbol
Raja-Pandita
Gelar raja-pandita menegaskan peran ganda penguasa sebagai pemimpin politik dan religius, sehingga Islam identik dengan legitimasi kerajaan. - Pusat
Pendidikan dan Dakwah
Cirebon menjadi pusat pesantren awal dan jaringan ulama. Tradisi tarekat juga berkembang melalui ajaran-ajaran tasawuf yang disebarkan dari istana.
Politik Islamisasi Cirebon
cenderung inklusif: seni, arsitektur, dan ritual lokal tetap dipertahankan
tetapi diislamkan. Hal ini membuat Cirebon menjadi simpul Islamisasi yang damai
dan akomodatif.
5.3 Kesultanan Banten: Islamisasi melalui Ekspansi
Jika Cirebon menekankan
akulturasi, maka Kesultanan Banten lebih menonjol dalam ekspansi militer
dan politik. Didirikan oleh Sultan Maulana Hasanuddin, putra Sunan
Gunung Jati, Banten berkembang sebagai kerajaan maritim kuat yang menguasai
perdagangan lada di Selat Sunda.
Peran politik Banten dalam Islamisasi:
- Penaklukan
Pajajaran (1579)
Dengan jatuhnya Pajajaran, simbol kekuasaan Hindu-Buddha di Tatar Sunda berakhir. Islam kemudian menjadi kekuatan politik dominan. - Perdagangan
Internasional
Sebagai pelabuhan besar, Banten menarik pedagang Muslim dari berbagai dunia. Hal ini mempercepat penetrasi Islam ke lapisan masyarakat luas. - Sultan
sebagai Pelindung Agama
Sultan Banten tidak hanya penguasa duniawi, tetapi juga pemimpin religius yang mengawasi pesantren, ulama, dan tarekat.
Dengan basis kekuatan politik dan ekonomi, Banten mampu
mendorong Islamisasi secara massif, terutama di wilayah barat Jawa.
5.4 Pajajaran dan Akhir Kekuasaan Hindu-Buddha
Kerajaan Sunda-Pajajaran yang
sebelumnya berpusat di Pakuan (Bogor) mengalami kemunduran akibat tekanan
politik dari Cirebon dan Banten. Pada akhirnya, Pajajaran runtuh setelah
serangan Banten pada 1579.
Namun, meskipun Pajajaran runtuh,
budaya Sunda tidak ikut hilang. Sebaliknya, banyak unsur tradisi Hindu-Buddha
diislamkan. Upacara pertanian, penghormatan leluhur, hingga arsitektur istana
tetap dilestarikan dalam bentuk baru. Hal ini memperlihatkan bahwa kekuasaan
politik Islam tidak meniadakan tradisi lama, tetapi mengakomodasinya.
5.5 Islamisasi dan Legitimasi Kekuasaan
Politik Islamisasi di Tatar Sunda
juga berhubungan dengan pencarian legitimasi. Para sultan Cirebon dan Banten
mengaitkan garis keturunannya dengan tokoh-tokoh Islam besar, bahkan dengan
Nabi Muhammad melalui jalur genealogis.
Dengan demikian, Islam bukan
hanya agama, tetapi juga simbol legitimasi kekuasaan. Hal ini mirip dengan pola
di Jawa Tengah (Kesultanan Demak dan Mataram Islam), tetapi dengan karakter
lokal Sunda yang lebih menekankan pada harmoni sosial.
5.6 Relasi Politik, Budaya, dan Agama
Politik Islamisasi tidak bisa
dilepaskan dari budaya dan agama. Kesultanan Cirebon dan Banten memahami bahwa
untuk mempertahankan kekuasaan, mereka harus mengakar pada budaya lokal. Maka
seni, adat, dan tradisi dilebur ke dalam kerangka Islam.
Sebaliknya, masyarakat Sunda
menerima Islam karena melihat bahwa para penguasa Muslim tidak menghapus
identitas budaya mereka, tetapi justru melindunginya. Proses inilah yang
membuat Islam cepat menyebar di Tatar Sunda tanpa konflik besar.
KESIMPULAN
Proses Islamisasi di Tatar
Sunda merupakan salah satu fenomena penting dalam sejarah Nusantara.
Keberhasilannya tidak semata-mata karena penyebaran ajaran agama, melainkan
hasil dari kombinasi kompleks antara budaya, seni, politik, toleransi, dan
pendidikan pesantren.
Pertama, dari sisi budaya dan
seni, Islamisasi berlangsung dengan cara mengakomodasi tradisi lokal. Seni
pertunjukan seperti wayang golek, musik tradisional, pupujian,
guguritan, hingga nadoman menjadi media dakwah yang efektif. Adaptasi ini
membuat Islam terasa akrab dan tidak asing bagi masyarakat Sunda.
Kedua, dari aspek politik,
Kesultanan Cirebon dan Banten memainkan peran vital. Cirebon
menjadi pusat Islamisasi damai dengan pendekatan akulturasi, sementara Banten
memperkuat Islamisasi melalui kekuatan militer, perdagangan, dan ekspansi
politik. Runtuhnya Pajajaran pada 1579 menjadi titik balik besar yang menandai
dominasi Islam dalam politik Tatar Sunda.
Ketiga, toleransi dan
akulturasi menjadi kunci penerimaan Islam. Tradisi lama tidak dihapus,
melainkan diislamkan. Ritual pertanian, penghormatan leluhur, dan simbol-simbol
budaya tetap dilestarikan, hanya diberi makna baru sesuai ajaran Islam. Dengan
pendekatan ini, Islam dapat menyatu dengan identitas kesundaan tanpa
menimbulkan perlawanan.
Keempat, pesantren menjadi
pilar utama penguatan Islam di pedalaman Sunda. Melalui peran kyai dan ajengan,
pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menjaga kesinambungan
tradisi religius seperti pupujian, ziarah wali, serta tarekat Naqsyabandiyah
dan Qadiriyah-Naqsyabandiyah. Pesantren juga berfungsi sebagai pusat
pendidikan, sosial, dan budaya yang memperkuat jaringan Islam lokal hingga
kini.
Dengan demikian, keberhasilan
Islamisasi di Tatar Sunda dapat disimpulkan karena adanya simbiosis harmonis
antara dakwah kultural, dukungan politik, toleransi sosial, dan penguatan
pendidikan pesantren. Islam hadir bukan sebagai kekuatan asing yang merusak,
melainkan sebagai bagian dari identitas masyarakat Sunda itu sendiri.
Fenomena ini membuktikan bahwa
Islam di Nusantara, khususnya di Jawa Barat, berkembang melalui jalur indigenisasi—yaitu
proses menjadikan Islam sesuai dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensinya.
Hingga hari ini, identitas Islam Sunda masih dapat ditemukan dalam tradisi
pesantren, seni religi, budaya ziarah, dan nilai-nilai harmoni sosial silih
asih, silih asah, silih asuh.
Daftar Pustaka
Ambary, H. M. (1991). The establishment of Islamic rule
in Jayakarta (from the Carita Purwaka Caruban Nagari to the Jayakarta
inscription). Yayasan Obor Indonesia.
Bruinessen, M. van. (1994). The origin and development of
Sufi orders (tarekat) in Southeast Asia. Studia Islamika, 1(1), 1–23.
Bruinessen, M. van. (1995). Shari‘a court, tarekat and
pesantren: Religious institutions in the Banten Sultanate. Archipel, 47.
Dewi, E. (2018). Wayang golek sebagai media dakwah. Jurnal
Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati.
Dhofier, Z. (1999). The pesantren tradition: The role of
the kyai in the maintenance of traditional Islam in Java. Program for
Southeast Asian Studies, Arizona State University.
Guillot, C., Nurhakim, L., & Wibisono, S. (2008). Banten:
Sejarah dan peradaban abad X–XVII. EFEO & KPG.
Jaelani, A. (2016). Religious heritage tourism and creative
economy in Cirebon: The Mausoleum of Sunan Gunung Jati. MPRA Paper.
Ricklefs, M. C. (2008). Sejarah Indonesia modern
1200–2008. Jakarta: Serambi.
Rohmana, J. A. (2015). Terjemah puitis Al-Qur’an di Jawa
Barat: Guguritan & pupujian Sunda. Jurnal Suhuf, 8(2), 175–202.
Wessing, R. (1998). Tending the spirit’s shrine: Kanekes and
Pajajaran in West Java.
Zarkasyi, H. F. (2014). Modern pondok pesantren:
Maintaining tradition in modern system. Tsaqafah, 10(1).
Komentar
Posting Komentar